Archive | September 2020

#30dayswritingchallenge Day 6: Single and happy

Wah, kalau tema ini mah “gue banget” 😀 yah, kayak saya cerita di sini, saya sekarang kayaknya sih lebih menikmati sendiri 🙂 Dulu waktu umur saya di pertengahan 20 sampai awal 30, saya masih mencari-cari siapa sih jodoh saya 😀 Tapi, setelah melewati pertengahan 30, saya kok mulai mikir yah dinikmati sajalah…Kalau memang saya ada jodohnya, pasti gak akan kemana 🙂 Selain itu, walupun single, sejauh ini sih alhamdulillah saya gak pernah merasa kesepian 🙂

So, it’s me…I am single and also happy, everybody 🙂

#30dayswritingchallenge Day 5: My parents

Untuk tema ini, saya mau cerita tentang pengalaman berkesan selama masa kecil saya bersama Ayah Bunda.

Untuk kenangan bersama Ayah, salah satu yang paling berkesan waktu kecil adalah saat saya dan Abang-abang saya menunggu Ayah saya pulang kerja, khususnya hari Kamis malam. Karena saat itu, Ayah pasti membawa pulang majalah Bobo untuk dibaca oleh saya dan Abang-abang 🙂 BTW, anak-anak sekarang masih pada baca Bobo ga sih?

Selain itu, karena kantor Ayah dulu adalah supplier bahan packaging untuk k*c dan Ayah sering mengadakan kunjungan ke gerai-gerai ayam cepat saji tersebut, yang paling ditunggu-tunggu kalau Ayah pulang kantor adalah kalau Ayah bawa pulang si ayam tersebut 🙂 Dan dalam seminggu, kami bisa beberapa kali makan si k*c tersebut. Tetapi, lucunya, karena si Ayah bukan penggemar si ayam dan penganut cuma makan ayam kampung saja, jadi selama bertahun-tahun beliau bawa pulang si ayam, ga pernah satu kali pun Ayah makan ayam tersebut 😀 Dan hal ini berlanjut terus sampai sekarang lho…

Kalau dengan Bunda, kenangan masa kecil yang paling saya ingat adalah ada masa dimana Bunda bikin kue, roti, nasi uduk, dll. untuk dijual di kantin sekolah dekat rumah. Setiap pagi, Bunda selalu menyiapkan makanan-makanan tersebut, kemudian mengantarkannya ke sekolah dengan naik sepeda. Saat itu, saya sudah SMP dan kalau giliran masuk siang, saya suka banget nemenin Bunda untuk bikin makanan-makanan tersebut…Bukan buat bantuin sih, tapi buat nungguin sisa lebih makanannya 😀 Saat ditanya untuk apa jualan, Bunda menjawab bahwa mau mengumpulkan uang untuk nambah ongkos naik haji. Dan alhamdulillah, Bunda memang bisa berangkat haji sekitar 1-2 tahun kemudian setelah jualan, lupa persisnya 🙂 sebagai informasi, naik haji di tahun 90-an itu sih masih ga perlu nunggu lama untuk berangkat. 1-2 tahun setelah daftar, langsung bisa berangkat 🙂

 

 

#30dayswritingchallenge Day 4: Places you want to visit

Kalau bicara tentang places you want to visit alias tempat yang mau kamu kunjungi, saya sih punya banyak wishlist kayak saya pernah sebutin di sini 🙂 Tapi, untuk sekarang ada 2 tempat yang mau saya ceritain di sini.

  1. Changi Airport, Singapore

Jadi sudah sejak beberapa tahun lalu, saya punya cita-cita untuk solo trip weekend get away ke Singapura. Tetapi, sayangnya sampai sekarang belum kesampaian 😦 Terus, sering dengar juga tentang cerita orang-orang mengenai Changi Airport yang keren banget dan punya banyak fasilitas. Wish list pun jadi saya persempit yaitu cuma pengen solo travel weekend get away ke Changi Airport, nginap di sana semalam, terus kelilingin si Changi Airport 🙂 as simple as that 🙂 Mudah-mudahan bisa terwujud ya 🙂

Video lama yang saya temukan di Youtube. Lumayan buat referensi 🙂 Jadi ingat, dulu saya juga pernah cerita tentang keliling Soetta bersama teman di sini 🙂 Semoga suatu hari Soetta juga bisa sekeren Changi 🙂

2. Hokkaido, Japan

Kalau ini sih karena saya sudah bosan ke Tokyo #eeeaaa dan ingin cari salju dan menikmati hal-hal lainnya di Hokkaido 🙂 Semoga ini juga bisa segera terwujud 🙂

#30dayswritingchallenge Day 2: Things that make you happy

Sebenarnya pas baca tema ini, saya berpikir untuk menulis tentang hal hal yang membahagiakan saya selama PSBB dan WFH. Tapi, baru saja kemarin saya juga mengalami hal yang membahagiakan dan juga buat saya bersyukur 😊

Jadi, kemarin sore tiba tiba Ayah saya mendadak muntah muntah, dan jadi panas dingin. Saya masih agak santai saat itu karena saya pikir mungkin cuma masuk angin, sambil terus melanjutkan WFH saya. Pas udah selesai WFH, saya cek kondisi Ayah saya, dan ternyata beliau tambah lemas dan pusing kalau bangun 😦 di situlah saya mulai panik.. Ayah suruh saya telepon Om saya yang dokter untuk memberitahukan gejala-gejala yang dialami, terus si Om bilang coba ukur tensi Ayah karena kemungkinan tinggi. Dan kalau memang tinggi, harus dibawa ke rumah sakit karena takut kenapa kenapa. Pas diukur beberapa kali, memang tekanan atas dan bawah darah Ayah tinggi. Berkisar antara 165-180. Sedangkan tekanan darah Ayah biasa cuma 140-an. Langsung saya telepon Abang dan Adik saya. Sudah minum obat pun (3 kali bahkan), tekanan darah Ayah ga turun turun 😦 Saat itu, saya mulai ngebayangin bagaimana kalau Ayah memang harus dirawat di RS 😭😭😭😭 Saat Abang dan Adik saya datang pun, si Ayah tetap ga mau dibawa ke RS karena takut dgn kondisi sekarang. Akhirnya jam 9 malam kemarin, si Ayah mau juga dibawa ke RS setelah tensinya tetap tinggi habis diukur beberapa kali lagi..Alhamdulillah, setelah diperiksa di RS, ternyata penyebab tensi Ayah tinggi adalah karena asam lambungnya yang tinggi 😦 tapi syukurlah Ayah cuma perlu minum obat dan gak perlu dirawat, jadi bisa langsung pulang tadi malam 😊

Demikianlah hal yang membahagiakan dan buat saya bersyukur kemarin. Alhamdulillah dan semoga Ayah ga sakit-sakit lagi 🙏😊

#30dayswritingchallenge Day 1: Describe your personality

Tadi malam, pas saya ngecek IGS teman-teman, dan ngeliat mantan tetangga posting ini di IGSnya:

Lalu, saya kok jadi pengen ikutan challenge ini ya dengan tujuan biar rajin nulis aja gitu 😀 Dan kalau lihat tema-temanya, lumayanlah buat saya dan sudah kebayang mau nulis apa di setiap temanya. Karena selama WFH ini harus tiap hari buka laptop, dan hampir selalu buka laptop juga di weekend untuk zoom meeting belajar bahasa Jepang (Sebagai informasi, saya agak malas posting dari HP karena ribet buat saya :D). Selain itu, tantangan ini saya anggap sebagai relaksasi sambil kerja selama WFH, jadi marilah kita ucapkan bismillah dan doakan biar saya istiqamah untuk bisa nulis di blog selama 30 hari ke depan 😀
Tema hari pertama adalah “Describe your personality” alias “Gambarkan kepribadianmu”…hm, setelah saya perhatikan selama 41 tahun saya hidup (Yes, I am that old, but remember age is just a number :D), salah satu kepribadian saya yang menonjol buat saya pribadi adalah saya tuh orangnya introvert, tetapi bisa jadi extrovert kalau ketemu orang yang pas dengan saya. Saya pun bukan tipe orang yang bisa memulai suatu pembicaraan, jadi kalau orang yang kenal baik sama saya, pasti akan komentar “Inong mah orangnya kalau ga diajak ngomong duluan, ga bakal ngomong :D”. Itu juga berlaku di lingkungan keluarga sih. Makanya, yang jadi sahabat-sahabat saya sejak SMU dan beberapa teman dekat lain tahu banget sifat saya ini, jadi kalau ketemuan biasanya yang ramai pasti mereka. Dan saya ikut nimbrung atau dengerin aja kalau mereka cerita 🙂

Selama WFH ini, sifat saya yang introvert dan extrovert ini bisa tersalurkan dengan ikut kelas bahasa Jepang online via zoom. Walaupun sebenarnya gak PD, tapi saya suka banget ikut kelas bahasa Jepang online yang jadi sering dilakukan selama masa pandemi ini. Senang aja bisa ketemu orang dari belahan dunia lain yang ga kita kenal, tapi punya minat yang sama dengan bahasa Jepang 🙂 selain itu, ini juga salah satu cara saya untuk mempersiapkan diri demi cita-cita “Living and working in Japan in……” 🙂 Nah, kalau ikut kelas bahasa Jepang ini, si Inong bisa berubah jadi rame deh 😀

Demikianlah cerita #30dayswritingchallenge hari pertama saya 🙂 Ada yang berminat ikutan juga?

Salah satu kelas online bahasa Jepang yang saya ikuti 🙂

Updated: 260920

Seperti biasa, sebelum tidur browsing IGS teman, dan ada teman yang merasa punya kepribadian yang sama dgn saya (antara introvert dan extrovert, yang bahasa psikologinya baru saya tahu yaitu ambivert) share tentang tes kepribadian di link berikut ini: https://www.scienceofpeople.com/ambivert/ dan hasilnya memang pas banget dengan cerita saya di atas 😊 silakan dicoba buat yang berminat 😊

Hasil kuis saya
Penjelasannya via e-mail

Sebuah pemikiran…

Jadi, kemarin saya iseng untuk memainkan sebuah permainan di aplikasi buku muka saya. Dan berikut adalah hasilnya:

Sebagai informasi, saya sering ikut kuis-kuis seperti ini di akun buku muka saya. Walaupun niatnya iseng, tapi hampir 90% kuis yang saya ikuti di akun buku muka saya sesuai dengan kepribadian saya atau paling tidak mendekatilah 🙂 Nah, pas kemarin iseng ikut yang ini, pas dapat hasilnya reaksi saya adalah: Waw, kok kamu tahu banget sih pikiran saya saat ini, wahai buku mukaku 🙂

Entah mengapa, sejak ibu saya menderita sakit tahun lalu, saya mulai lebih banyak berpikir tentang kehidupan saya. Sebelum Bunda sakit, jujur saya belum punya rencana yang jelas tentang kehidupan saya ke depannnya. Istilahnya ikut angin saja. terus kemudian Bunda sakit, dan dunia saya jadi berbalik 180 derajat. Sebelum tidur, jadi suka mikir apa yang akan saya lakukan ke depannya, walaupun sekarang kondisi saya masih belum bisa berbuat banyak untuk mewujudkan rencana-rencana saya ke depan. Salah satunya soal menikah. Walaupun belum putus asa dalam hal pencarian jodoh, tetapi jujur hasil tes di atas tuh benar benar menggambarkan isi pikiran saya saat ini. Dan seperti mungkin sebagian besar pembaca yang mengikuti blog saya tahu bahwa salah satu cita-cita saya suatu hari nanti adalah untuk tinggal (sementara) dan bekerja di Jepang. Terus, saya kan jadi mikir, kalau misalnya saya tetap punya cita-cita tinggal dan bekeja di Jepang walaupun sementara, kalau saya menikah, apakah suami saya kelak mengizinkan saya untuk menggapai cita-cita tersebut. Jujur, dari saya pribadi, walaupun misalnya suami mengizinkan, malah saya yang jadi ga tega dong sama dia 😦 Makanya, kalau dalam masalah jodoh, saya sih pengennya kalau bisa dapat jodoh cowok Jepang muslim, jadi bisa seterusnya tinggal di sana (Prinsip saya mah kalau mimpi, yang tinggi sekalian mumpung gratis :D). Terus, masih berhubungan dengan hasil tes di atas, saya memang tipenya lebih suka melakukan kegiatan sendiri sih, misalnya makan di luar sendiri, nonton bioskop sendiri. Dan saya sangat menikmati hal itu. Walaupun saya gak nolak juga sih kalau diajak jalan ramai-ramai atau kumpul dengan teman 🙂

Nah, setelah itu saya pun jadi kepikiran lagi, misalnya nih cita-cita saya pindah ke Jepang tercapai, terus saya belum menikah dan ga punya saudara atau kerabat di Jepang, bagaimana kalau saya meninggal tiba-tiba di sana? Bagaimana cara pengurusannya? Seperti komen saya di postingan Deny yang ini, saya juga sudah sempat ngobrolin masalah ini dengan teman yang kerja di kantor pemerintah RI di Jepang, tapi memang belum ada keputusannya sih…

Demikianlah sedikit berbagi pemikiran saya belakangan ini. Menurut teman-teman, mikir kayak gini aneh gak sih? atau ada yang mengalami pemikiran yang mirip-mirip dengan saya?