Archive | September 2021

Saya dan vaksin

Di postingan ini, pengen cerita tentang pengalaman saya “mengejar” si vaksin demi memusnahkan si Corona 🙂

Jadi ceritanya pas awal-awal vaksin sudah mulai boleh digunakan untuk penduduk usia 18-60 tahun di Indonesia, jujur saya sebenarnya masih belum begitu tertarik untuk vaksin. Alasannya sebenarnya sederhana, yaitu sok sibuk dengan jadwal kerja saya waktu itu yang baru mulai merintis karir sebagai guru bahasa Jepang daring dan juga agak parno dengan cerita-cerita KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) yang sering saya dengar sebelumnya.

Namun, setelah mendengar berbagai berita bahwa untuk pergi ke tempat-tempat umum dan pergi ke daerah/negara lain memerlukan bukti sertifikat vaksin, dan selain itu di rumah juga ada Bunda yang kondisinya sangat rentan tetapi tidak bisa divaksin, maka saya pun mulai berpikir untuk melakukan vaksin tersebut. Akhirnya saya pun mulai cari-cari info tentang tempat vaksin, walau masih belum niat banget juga 😀 Kemudian, pas akhir Juni lalu, adik saya menginfokan bahwa saya dan ART saya (Kebetulan di rumah tinggal saya dan ART yang belum divaksin, sedangkan Ayah saya sudah dapat vaksin waktu pelaksanaan vaksin untuk umur 60 tahun ke atas) bisa ikut program vaksin di salah satu rumah sakit. Akhirnya alhamdulillah bisa dapat juga si vaksin di rumah sakit tersebut. Dosis pertama selesai 🙂

Masalah selanjutnya, adalah masalah si sertifikatnya 😀 Sebenarnya, sejak habis vaksin pertama tersebut, saya sudah mendaftarkan diri di website pemerintah itu 🙂 Saya masih santai aja sih, karena banyak dengar cerita orang-orang ada yang cepat langsung dapat cuma beberapa jam setelah vaksin, namun selain itu juga tidak sedikit yang baru dapat si sertifikat (Yang pertama dan kedua) beberapa bulan setelah vaksin kedua. Tapi, entah kenapa, sampai hari saya dan si Mbak mendapatkan vaksin dosis kedua, si sertifikat vaksin pertama belum juga muncul…Rencananya sih mau nanyain ke pihak rumah sakit saat vaksin kedua. Ternyata, pas hari H vaksin kedua dan saya sudah pesan taksi daring untuk berangkat ke rumah sakit, adik ipar adik saya nelpon mengabarkan bahwa stok si vaksin habis. Kebetulan adik ipar adik saya itu sudah duluan tiba di rumah sakit tersebut untuk mengantarkan ibunya aka ibu mertua adik saya yang sebelumnya mendapatkan dosis pertama si vaksin bersama-sama dengan saya. Untungnya saya belum berangkat ke RS. Sempat panik juga bagaimana biar bisa tetap vaksin di hari itu juga dan dapat jenis vaksin yang sama. Untung kepikiran untuk menelepon salah satu suster Puskesmas yang sering bantu Bunda. Dia menyarankan untuk pergi ke salah satu Puskesmas dekat rumah saya dimana di sana bisa langsung datang tanpa perlu mendaftar. Akhirnya saya pun berangkat ke Puskesmas tersebut dengan masih sedikit harap-harap cemas. Pas sampai di Puskesmas, alhamdulillah memang ternyata langsung bisa vaksin tanpa perlu daftar-daftar sebelumnya dan alhamdulillah lagi si jenis vaksin yang saya pakai sebelumnya juga masih tersedia.

Alhamdulillah proses vaksin berjalan lancar, tidak sampai satu jam, saya dan si Mbak sudah mendapatkan vaksin dosis kedua kami. Mungkin yang sedikit jadi masalah adalah waktu proses screening, tekanan darah saya dan si Mbak lumayan tinggi. Mungkin pengaruh deg-degan dan sempat agak panik karena sebelumnya dengar berita ga bisa vaksin di tempat awal. Sebagai informasi, maksimal tekanan darah yang diperbolehkan untuk vaksin adalah 180/100. Sedangkan tekanan darah saya sempat melebihi batas tersebut 😦 Akhirnya setelah menenangkan diri beberapa menit, bisa juga si darah saya tekanannya turun, walaupun masih sedikit lebih tinggi dari biasanya. Saat vaksin pertama, juga demikian, tekanan darah sempat tinggi walaupun masih dalam batas normal dan tidak setinggi pada saat vaksin kedua. Kalau ini mungkin karena saya sempat deg-degan karena mikir bakal terkena kejadian ikutan apa ya setelah vaksin. Alhamdulillah dosis kedua selesai.

Nah, untuk masalah sertifikat seperti yang saya ceritakan di atas, saya pun dibantu oleh staf Puskesmas tersebut, dan ternyata ada kesalahan input di data untuk sertifikat vaksin pertama saya, sehingga sertifikat pertama saya dan si Mbak tidak keluar. Akhirnya, setelah data diperbaiki, dijanjikan sertifikat bisa keluar dalam 1 x 24 jam, dan bila belum keluar diminta untuk menghubungi pihak Puskesmas lagi. Saat keesokan harinya saya cek, alhamdulillah sertifikat vaksin pertama saya sudah keluar, tapi yang kedua belum. Sedangkan untuk si Mbak, dua-duanya belum keluar 😦 Akhirnya, saya pun menghubungi kembali pihak Puskesmas untuk minta bantuan mereka mengenai hal ini. Dan kemarin alhamdulillah, saya dan si Mbak sudah mendapatkan kedua sertifikat vaksin kami.

Kalau untuk KIPInya sendiri, alhamdulillah waktu habis vaksin pertama saya cuma merasa pegal di tangan yang disuntikkan vaksin. Dan sorenya sejak jam 5 sudah merasa mengantuk sekali. Sedangkan saat habis vaksin kedua, tidak ada rasa pegal seperti pada saat habis vaksin pertama, tapi tetap ada sedikit rasa mengantuk. Alhamdulillah untungnya si ngantuk datangnya pas jam 8 malam, setelah saya selesai mengajar. Jadi sebenarnya bingung apa ini karena efek vaksin atau memang sayanya pengen tidur lebih cepat 😀 Si Mbak pun juga sama KIPInya sama saya, cuma pegal dan mengantuk saja untuk vaksin pertama, dan ngantuk pas vaksin kedua 🙂

Demikianlah, cerita saya dengan si vaksin. Alhamdulillah, walau sedikit berliku, tapi semua berjalan lancar dan kejadian ikutannya ternyata bisa dibilang sangat ringan atau tidak ada buat saya 🙂 Bagaimana cerita Anda dengan si vaksin?

Meraih Mimpi :)

Jadi tulisan ini terinspirasi dari status di buku muka sahabat saya zaman kuliah dulu (I san) yang menuliskan status bahwa dia sedang masa isolasi mandiri setelah ketibaannya di Jepang di sebuah hotel dekat bandara Narita, Jepang. Setelah saya membaca komen-komen di statusnya, ternyata saya baru tahu kalau dia sekarang akan bertugas sebagai pengajar di Universitas Jepang yang sama dengan teman kuliah saya (juga) dulu (T san), dimana T san ini sudah terlebih dulu menjadi pengajar di Universitas tersebut.

Melihat status teman saya ini pun, saya jadi teringat cerita-cerita di zaman kuliah dulu 🙂 Kedua teman saya ini memang pintar dan hebat sejak zaman kuliah dulu, dan dua-duanya sempat mendapatkan beasiswa kuliah di Jepang selama satu tahun pada waktu kuliah dulu. Dan buat saya, sepertinya mereka telah berhasil mimpi mereka 🙂

Nah, kalau buat saya sendiri, kayaknya gara-gara baca status teman in jadi makin bersemangat menggapai mimpi saya sendiri 🙂 Jadi seperti sudah saya ceritakan di sini, sekarang saya coba memfokuskan diri untuk menjadi guru bahasa Jepang daring sambil perlahan-lahan mulai menyusun rencana untuk mencapai cita-cita buat bikin sekolah bahasa Jepang seperti yang saya tulis di sini. Bahkan, sebelum membaca status teman saya ini, sebenarnya saya sempat kepikiran untuk mengambil sertifikat guru bahasa Jepang di Jepang. Tapi kayaknya mungkin belum bisa dilaksanakan dalam waktu dekat karena harus ngumpulin modal dulu dan juga meningkatkan lagi kemampuan bahasa Jepang saya 🙂 Ganbatte, Inong 🙂

To I san dan T san, sukses selalu untuk karir mengajarnya 🙂 Dan doakan temanmu yang satu ini untuk bisa menyusul kalian ke sana untuk meraih mimpinya….Aamiin 🙂