Saya dan vaksin

Di postingan ini, pengen cerita tentang pengalaman saya “mengejar” si vaksin demi memusnahkan si Corona 🙂

Jadi ceritanya pas awal-awal vaksin sudah mulai boleh digunakan untuk penduduk usia 18-60 tahun di Indonesia, jujur saya sebenarnya masih belum begitu tertarik untuk vaksin. Alasannya sebenarnya sederhana, yaitu sok sibuk dengan jadwal kerja saya waktu itu yang baru mulai merintis karir sebagai guru bahasa Jepang daring dan juga agak parno dengan cerita-cerita KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) yang sering saya dengar sebelumnya.

Namun, setelah mendengar berbagai berita bahwa untuk pergi ke tempat-tempat umum dan pergi ke daerah/negara lain memerlukan bukti sertifikat vaksin, dan selain itu di rumah juga ada Bunda yang kondisinya sangat rentan tetapi tidak bisa divaksin, maka saya pun mulai berpikir untuk melakukan vaksin tersebut. Akhirnya saya pun mulai cari-cari info tentang tempat vaksin, walau masih belum niat banget juga 😀 Kemudian, pas akhir Juni lalu, adik saya menginfokan bahwa saya dan ART saya (Kebetulan di rumah tinggal saya dan ART yang belum divaksin, sedangkan Ayah saya sudah dapat vaksin waktu pelaksanaan vaksin untuk umur 60 tahun ke atas) bisa ikut program vaksin di salah satu rumah sakit. Akhirnya alhamdulillah bisa dapat juga si vaksin di rumah sakit tersebut. Dosis pertama selesai 🙂

Masalah selanjutnya, adalah masalah si sertifikatnya 😀 Sebenarnya, sejak habis vaksin pertama tersebut, saya sudah mendaftarkan diri di website pemerintah itu 🙂 Saya masih santai aja sih, karena banyak dengar cerita orang-orang ada yang cepat langsung dapat cuma beberapa jam setelah vaksin, namun selain itu juga tidak sedikit yang baru dapat si sertifikat (Yang pertama dan kedua) beberapa bulan setelah vaksin kedua. Tapi, entah kenapa, sampai hari saya dan si Mbak mendapatkan vaksin dosis kedua, si sertifikat vaksin pertama belum juga muncul…Rencananya sih mau nanyain ke pihak rumah sakit saat vaksin kedua. Ternyata, pas hari H vaksin kedua dan saya sudah pesan taksi daring untuk berangkat ke rumah sakit, adik ipar adik saya nelpon mengabarkan bahwa stok si vaksin habis. Kebetulan adik ipar adik saya itu sudah duluan tiba di rumah sakit tersebut untuk mengantarkan ibunya aka ibu mertua adik saya yang sebelumnya mendapatkan dosis pertama si vaksin bersama-sama dengan saya. Untungnya saya belum berangkat ke RS. Sempat panik juga bagaimana biar bisa tetap vaksin di hari itu juga dan dapat jenis vaksin yang sama. Untung kepikiran untuk menelepon salah satu suster Puskesmas yang sering bantu Bunda. Dia menyarankan untuk pergi ke salah satu Puskesmas dekat rumah saya dimana di sana bisa langsung datang tanpa perlu mendaftar. Akhirnya saya pun berangkat ke Puskesmas tersebut dengan masih sedikit harap-harap cemas. Pas sampai di Puskesmas, alhamdulillah memang ternyata langsung bisa vaksin tanpa perlu daftar-daftar sebelumnya dan alhamdulillah lagi si jenis vaksin yang saya pakai sebelumnya juga masih tersedia.

Alhamdulillah proses vaksin berjalan lancar, tidak sampai satu jam, saya dan si Mbak sudah mendapatkan vaksin dosis kedua kami. Mungkin yang sedikit jadi masalah adalah waktu proses screening, tekanan darah saya dan si Mbak lumayan tinggi. Mungkin pengaruh deg-degan dan sempat agak panik karena sebelumnya dengar berita ga bisa vaksin di tempat awal. Sebagai informasi, maksimal tekanan darah yang diperbolehkan untuk vaksin adalah 180/100. Sedangkan tekanan darah saya sempat melebihi batas tersebut 😦 Akhirnya setelah menenangkan diri beberapa menit, bisa juga si darah saya tekanannya turun, walaupun masih sedikit lebih tinggi dari biasanya. Saat vaksin pertama, juga demikian, tekanan darah sempat tinggi walaupun masih dalam batas normal dan tidak setinggi pada saat vaksin kedua. Kalau ini mungkin karena saya sempat deg-degan karena mikir bakal terkena kejadian ikutan apa ya setelah vaksin. Alhamdulillah dosis kedua selesai.

Nah, untuk masalah sertifikat seperti yang saya ceritakan di atas, saya pun dibantu oleh staf Puskesmas tersebut, dan ternyata ada kesalahan input di data untuk sertifikat vaksin pertama saya, sehingga sertifikat pertama saya dan si Mbak tidak keluar. Akhirnya, setelah data diperbaiki, dijanjikan sertifikat bisa keluar dalam 1 x 24 jam, dan bila belum keluar diminta untuk menghubungi pihak Puskesmas lagi. Saat keesokan harinya saya cek, alhamdulillah sertifikat vaksin pertama saya sudah keluar, tapi yang kedua belum. Sedangkan untuk si Mbak, dua-duanya belum keluar 😦 Akhirnya, saya pun menghubungi kembali pihak Puskesmas untuk minta bantuan mereka mengenai hal ini. Dan kemarin alhamdulillah, saya dan si Mbak sudah mendapatkan kedua sertifikat vaksin kami.

Kalau untuk KIPInya sendiri, alhamdulillah waktu habis vaksin pertama saya cuma merasa pegal di tangan yang disuntikkan vaksin. Dan sorenya sejak jam 5 sudah merasa mengantuk sekali. Sedangkan saat habis vaksin kedua, tidak ada rasa pegal seperti pada saat habis vaksin pertama, tapi tetap ada sedikit rasa mengantuk. Alhamdulillah untungnya si ngantuk datangnya pas jam 8 malam, setelah saya selesai mengajar. Jadi sebenarnya bingung apa ini karena efek vaksin atau memang sayanya pengen tidur lebih cepat 😀 Si Mbak pun juga sama KIPInya sama saya, cuma pegal dan mengantuk saja untuk vaksin pertama, dan ngantuk pas vaksin kedua 🙂

Demikianlah, cerita saya dengan si vaksin. Alhamdulillah, walau sedikit berliku, tapi semua berjalan lancar dan kejadian ikutannya ternyata bisa dibilang sangat ringan atau tidak ada buat saya 🙂 Bagaimana cerita Anda dengan si vaksin?

Meraih Mimpi :)

Jadi tulisan ini terinspirasi dari status di buku muka sahabat saya zaman kuliah dulu (I san) yang menuliskan status bahwa dia sedang masa isolasi mandiri setelah ketibaannya di Jepang di sebuah hotel dekat bandara Narita, Jepang. Setelah saya membaca komen-komen di statusnya, ternyata saya baru tahu kalau dia sekarang akan bertugas sebagai pengajar di Universitas Jepang yang sama dengan teman kuliah saya (juga) dulu (T san), dimana T san ini sudah terlebih dulu menjadi pengajar di Universitas tersebut.

Melihat status teman saya ini pun, saya jadi teringat cerita-cerita di zaman kuliah dulu 🙂 Kedua teman saya ini memang pintar dan hebat sejak zaman kuliah dulu, dan dua-duanya sempat mendapatkan beasiswa kuliah di Jepang selama satu tahun pada waktu kuliah dulu. Dan buat saya, sepertinya mereka telah berhasil mimpi mereka 🙂

Nah, kalau buat saya sendiri, kayaknya gara-gara baca status teman in jadi makin bersemangat menggapai mimpi saya sendiri 🙂 Jadi seperti sudah saya ceritakan di sini, sekarang saya coba memfokuskan diri untuk menjadi guru bahasa Jepang daring sambil perlahan-lahan mulai menyusun rencana untuk mencapai cita-cita buat bikin sekolah bahasa Jepang seperti yang saya tulis di sini. Bahkan, sebelum membaca status teman saya ini, sebenarnya saya sempat kepikiran untuk mengambil sertifikat guru bahasa Jepang di Jepang. Tapi kayaknya mungkin belum bisa dilaksanakan dalam waktu dekat karena harus ngumpulin modal dulu dan juga meningkatkan lagi kemampuan bahasa Jepang saya 🙂 Ganbatte, Inong 🙂

To I san dan T san, sukses selalu untuk karir mengajarnya 🙂 Dan doakan temanmu yang satu ini untuk bisa menyusul kalian ke sana untuk meraih mimpinya….Aamiin 🙂

Taksi di Jepang :)

Tadi lagi browsing si buku muka saya, eh tahu-tahu ada senpai aka kakak senior kampus (Yang gak pernah ketemu di kampus, karena jarak angkatannya lumayan jauh), posting tentang cerita ini yang bercerita tentang Hari Taksi di Jepang yang diperingati setiap tgl. 5 Agustus #Sayabarutahu 🙂 Dan saya pun jadi kangen sama taksi di Jepang 🙂 Oh, ya…buat yang suka tentang kebudayaan Jepang, silakan lho dibaca blog Mbak Imelda ini, karena banyak banget informasi tentang budaya-budaya di Jepang yang dishare Mbak Imelda ini yang sudah lebih dari 20 tahun tinggal di Jepang :).

Walaupun jujur saya jarang pakai banget naik taksi kalau di Jepang, mengingat ongkosnya yang sangat mahal, tapi saya beruntung sempat ngerasain selama 3 bulan setiap hari pada hari kerja bisa ngerasain pulang pergi kerja naik taksi waktu pertama kali ke Jepang 🙂 Ingat banget waktu itu yang bikin kaget saya dan teman-teman saat pertama kali naik taksi di Jepang adalah ternyata pintu taksi di Jepang bisa dibuka sendiri lho dan harganya mahal banget 😀 Waktu pertama kali ke Jepang, saya dan teman-teman terkejut dengan harga argo taksi dari stasiun terdekat dari apato kami ke pabrik tempat kami pelatihan yang hanya memakan waktu 15 menit, ternyata ongkosnya adalah 910 yen (dikali Rp. 100 di tahun 2010, yah hampir 100.000-an lah :D). Untungnya, waktu itu kami dapat kupon untuk naik taksi setiap mau pulang pergi kantor, jadi ga pusing mikirin ongkos 😀 Terus jadi ingat, waktu ke pabrik di Jepang tahun 2015 lalu, saya juga pernah bela-belain naik taksi sendirian (Dan kali ini bayar sendiri :D) dari stasiun yang sama ke pabrik tempat saya training untuk menemui cowok Jepang favorit saya 😀 Nah, ini salah satu momen saat berkunjung ke Jepang dimana saya bela-belain naik taksi sendirian walaupun mahal, karena pengen ketemu si cowok favorit dan memang karena selain itu juga ga ada bus yang lewat depan pabrik sih, dan stasiun terdekat dari pabrik lumayan jauh 🙂 Tapi akhirnya memang jadi salah satu kenangan manis saya karena bisa ketemu dia dan teman saya selama masa training.

Ah, kan jadi kangen Jepang kan 🙂

Dulu sempat dikirimin video sama mantan murid yang lagi naik taksi di Jepang pas saya bilang kangen taksi di Jepang…Arigatou, Arief san 🙂
Stasiun tempat saya janjian sama teman-teman untuk naik taksi saat berangkat dan pulang kerja 11 tahun lalu 🙂
Foto stasiun tempat saya janjian di fotoin sama mantan murid yang lagi training di Jepang beberapa bulan lalu… Arigatou, Aman san 🙂

Ah, semoga saya bisa segera kembali ke Jepang dan bernostalgia naik taksi di Jepang 🙂 Arigatou Mbak Imel untuk postinngannya yang bikin saya jadi bernostalgia dengan taksi Jepang 🙂

Happy Idul Adha 1442 H

Sebelum hari ini berlalu, cuma mau mengucapkan selamat hari raya Idul Adha 1442 buat yang merayakan 🙂 Walaupun ternyata si C masih setia menemani (Padahal kita gak mau ditemani ma dia….), dan di daerah saya gak bisa melakukan shalat Id, masih banyak hal-hal lain yang patut saya syukuri di hari Idul Adha ini 🙂 Salah satunya adalah nikmat tetap sehat dan bisa beraktifitas…Alhamdulillah 🙂

Happy Eid Mubarak 🙂

Tiba-tiba ditag foto ini di IGS…. Memory of Umroh 2013 with my beloved cousin…Kangen deh jalan-jalan sama sepupu yang satu ini <3<3<3

Profesi Baru: Jadi Guru Bahasa Jepang Daring

Hallo Semuanya 🙂

Wih, ternyata udah hampir 3 bulan ya saya ga posting 😀 Hi..hi…dan alhamdulillah ternyata banyak kesibukan saya selama 3 bulan ga update-update berita dan update postingan teman-teman, serta walaupun tetap masih di rumah aja 🙂

Jadi, sebagai informasi kontrak kerja saya di kantor lama ga diperpanjang lagi per pertengahan Januari kemarin. Sebenarnya sempat panik karena ga nyangka bakal diputus kontrak dan jujur saya ga ada persiapan nyari-nyari kerja baru karena udah keasyikan hampir setahun bisa WFH dan kerja sambil menjaga Bunda 🙂 Tapi ya tetap disyukuri aja sambil banyak doa biar hati bisa tenang dan dapat pekerjaan baru.

Long story short, saya akhirnya coba-coba kembali ke jalur awal sebagai penerjemah bahasa Jepang. Sebenarnya jujur dalam hati saya masih ga yakin mau kerja kantoran mengingat keadaan Bunda. Sudah beberapa kali wawancara daring, tapi kok ga ada yang sreg ya…Akhirnya coba-coba juga nyari lowongan guru bahasa Jepang yang bisa mengajar daring. Alhamdulillah setelah kurang lebih sebulan, saya dapat beberapa orang murid private yang mau belajar bahasa Jepang secara daring. Terus coba-coba juga ngelamar di lembaga kursus yang membuka kelas bahasa Jepang daring..Alhamdulillah ada jodohnya di dua lembaga. Satu lembaga kursus lokal, dan satu lagi lembaga kursus yang juga memiliki kantor pusat di Jepang. Alhamdulillah, dengan jadi guru bahasa Jepang daring ini, saya tetap bisa bekerja dari rumah sambil menemani dan mengawasi Bunda 🙂 Thank you, Allah…

Untuk yang lembaga kursus lokal, selain menangani murid private, saya juga ditugaskan mengajar bahasa Jepang untuk suatu instansi pemerintah. Untuk yang diajarkan kepada instansi ini, mereka minta untuk diajarkan mengenai bahasa Jepang yang berkaitan dengan kandungan bahan-bahan makanan yang terkandung di produk-produk makanan Jepang. Saya yang selama ini cuma merhatiin ada kandungan yang tidak halal dari suatu makanan Jepang jadi ikut merasa tertantang dan belajar banyak hal baru soal kandungan bahan makanan Jepang.

Untuk lembaga kursus yang memiliki kantor pusat di Jepang, saya ditugaskan untuk mengajar orang-orang Filipina (Yang tinggal di Filipina) dan akan berangkat kerja ke Jepang. Jadi mengajar bahasa Jepang dengan bahasa Inggris. Tantangan baru lagi buat saya 🙂 Kadang kalau lagi ngajar orang-orang Filipina ini, saya keceplosan bahasa Indonesia, dan pas ngajar orang Indonesia, keceplosan ngomong bahasa Inggris 😀

Alhamdulillah, sampai sejauh ini murid-murid saya semuanya sangat antusias dan selalu bersemangat dalam belajar bahasa Jepang. Kadang masih suka ngucapin terima kasih melalui pesan di telepon, walaupun mereka juga sudah mengucapkan terima kasih saat kelas selesai 🙂 Saya pun jadi merasa terharu dan tambah semangat untuk ngajar mereka. Ada juga yang rajin minta bahan pelajaran yang akan dipelajari berikutnya agar mereka bisa belajar sendiri dulu sebelum saya ajarkan <3<3

Terharu bacanya 🙂
Terharu lagi 🙂
Senangnya punya murid yang semangat kayak gini 🙂

Semoga dengan pekerjaan ini, menjadi peluang saya untuk mewujudkan impian saya yang pernah ditulis di sini 🙂 Tolong aamiinnya ya pembaca 🙂

Birthday’s Surprise

Kemarin adalah ulang tahun saya 🙂 Terus tahunya, siang-siang saya dapat kiriman kue kejutan dari adik sepupu yang sedari pagi chatan via WA, tetapi dia ga kasih tahu kalau mau kasih surprise. Mungkin dia tahu kalau kakak sepupunya ini lagi down banget pas hari ultahnya dan butuh sesuatu yang bikin dia gembira di hari ultahnya…Thank you so much, dearest Nanda…I’ll try to be stronger like you asked me too 🙂

The card ❤
The cake ❤

Once again, thank your dear cousin ❤

Menyambut 2021…

Sejujurnya bakal berat banget buat saya 😦 Ditambah satu berita yang mengejutkan yang saya terima tiba-tiba beberapa hari lalu, semakin galaulah saya menghadapi 2021 yang sepertinya masih kelihatan agak suram bagi saya..

Jujur, tahun 2019 lalu buat saya sudah termasuk berat. Tetapi, ternyata di tahun 2020, keadaan saya pun kayaknya masih belum membaik. Walaupun, tentunya tetap ada beberapa hal yang saya syukuri di tahun 2020 ini, dan saya pikir rasa syukur itu yang bikin saya bisa bertahan untuk (hampir) melewati tahun ini…

Untuk tahun 2021, saya ga punya harapan apa-apa. Masih doa yang sama seperti yang saya posting di sini…Plus ditambah banyakin doanya 🙂

Buat kita semua, selamat menyambut 2021 dan semoga keadaan kita dan dunia menjadi makin membaik di tahun 2021 mendatang 🙂

Tetap semangat dan tetap berpikir positif!!! #ngomongsamadirisendiri

Meeting zoom: ACEH DAY :)

Seperti yang pernah saya ceritakan di sini sebelumnya, sekarang saya sedang dalam masa transisi karir dari seorang penerjemah bahasa Jepang dan lebih banyak menggunakan bahasa Inggris di pekerjaan saya sekarang. Nah, untuk tetap biar bisa aktif menggunakan bahasa Jepang, walau sekarang lagi tidak bekerja sebagai penerjemah bahasa Jepang, saya pun aktif dalam beberapa grup online belajar bahasa Jepang bersama-sama dengan orang Jepang dan penutur bahasa Jepang lainnya seperti yang saya pernah ceritakan di sini 🙂

Minggu kemarin, seorang sempai aka senior (yang gak pernah ketemu) saya di kampus dulu dan yang tahu saya orang Aceh (pastinya dari nama saya), ngajakin saya untuk memperkenalkan Aceh dan sedikit budayanya dalam forum daring yang diadakan via zoom. Kebetulan senior saya ini sudah dua puluh tahun lebih tinggal di Jepang, dan beliau bersama teman-temannya dan bekerja sama dengan KBRI di Jepang aktif mengenalkan budaya-budaya yang ada di Indonesia kepada orang-orang Jepang. Selama pandemi ini, pertemuan dilakukan secara daring sebulan sekali. Dan kebetulan tema untuk bulan ini adalah “ACEH DAY”.

Sebenarnya pas diajakin ikut berpartisipasi, yang pasti saya senang sekali…Tapi ditambah deg-degan 😀 Biasalah, saya memang orangnya suka demam panggung. Tapi, alhamdulillah, walau memang sedikit gugup dan terbata-bata, ternyata bisa juga saya menyampaikan presentasi tentang salah satu budaya Aceh, pernikahan 🙂 Thank you Imelda sempai yang sudah memberikan kesempatan kepada saya untuk mengenalkan budaya Aceh kepada orang Jepang. Semoga ada kesempatan lainnya 🙂

#30dayswritingchallenge Day 30: Write about what do you feel when you write

The last day….Alhamdulillah 🙂

Yang jelas saya merasa lega dan bangga sama diri sendiri. Lega karena saya sendiri ga nyangka ternyata saya bisa nulis secara konsisten 30 hari penuh tanpa bolong-bolong 🙂 Padahal awalnya cuma niat iseng aja, biar buat refreshing sambil WFH dan mumpung bisa buka laptop tiap hari 🙂 Bangga karena saya bisa memenuhi janji sama diri sendiri untuk tiap hari nulis dan bisa mengalahkan rasa malas untuk nulis yang kadang-kadang muncul 😀

Selain itu, ternyata tantangan ini juga bikin saya bisa ngubek-ngubek lagi isi buku harian daring saya ini buat mengenang semua kejadian di masa lalu 🙂 Kalau ga ada tantangan ini, paling saya cuma lihat halaman-halaman pertama saja, tapi karena adanya tema-tema di tantangan ini, saya jadi ngubek-ngubek isi buku harian daring saya ini lagi deh :0

Hm, berikutnya saya jadi kepikiran mau tulis buku harian dengan bahasa Inggris dan Jepang, tetapi, khusus untuk bahasa Jepang, saya pengennya ada yang bisa memperbaiki tata bahasa saya, biar bisa keliatan kayak tulisan buku harian orang Jepang 😀 Soalnya, beberapa hari lalu pas saya posting ini, iseng saya bikin terjemahan bahasa Jepangnya, dan pas saya kirim di grup belajar bahasa Jepang yang saya ikuti, ternyata menurut para guru nativenya masih ada beberapa yang harus diperbaiki biar keliatan kayak buku harian orang Jepang..Walaupun menurut para guru tersebut, yah pastinya cara nulis masing-masing orang beda-beda, tapi yang diajarin ke saya adalah yang umum dipakai saat nulis buku harian oleh orang Jepang. Semoga aja suatu hari, bisa kesampaian 🙂 *Dengan catatan kalau saya tidak malas 😀

Akhir kata, semoga ada tantangan berikutnya yang bisa saya ikuti 🙂

#30dayswritingchallenge Day 29: My goals for the future

My goals for the future:

  1. Going for Hajj…Insyaa Allah 🙂
  2. Buy and stay in my own apartment 🙂
  3. To live and work in Japan for several years.
  4. After several years living and working in Japan, I will be back to Indonesia, and make a Japanese and English language course.
  5. Have a beneficial life for others for the rest of my life..

May Allah grant all my wishes and prayers 🙂