Suara hati :-)

Baca postingan mantan tetangga saya yang satu ini, kok saya jadi benar-benar terharu ya πŸ™‚ Kayak judul postingan saya kali ini, ini benar-benar menyuarakan suara hati saya…pake banget….

Seperti cerita Kiky ini, saya pun punya cita-cita untuk mengembangkan sayap alias meninggalkan rumah dan hidup mandiri…Kalau Kiky cerita dia ingin meninggalkan rumah kalau dia sudah berumur 18 tahun, kalau saya baru punya cita-cita ninggalin rumah mungkin baru sejak sekitar 10 tahun yang lalu, dengan cita-cita ingin mengejar karir di Jepang, terlebih setelah saya terima tawaran yang saya ceritakan di sini.

Tetapi, saya sebagai anak satu-satunya yang tinggal di rumah bersama Ayah Bunda saya sejak tahun 2012 saat adik saya menikah, dan juga sebagai orang yang banyak pertimbangan dan ketakutan-ketakutan terhadap hal yang bahkan belum terjadi sekali pun, akhirnya memutuskan untuk menolak tawaran tersebut. Dan juga beberapa tawaran kerja lain di Jepang yang datang setelah itu, dengan alasan saya tidak tega meninggalkan Ayah Bunda saya yang sudah tua cuma berduaan saja di rumah.

Bahkan, saat akhir tahun 2018 kantor lama saya memutuskan pindah lokasi ke Jawa Barat, saya pun memutuskan untuk tidak ikut dan mengundurkan diri, walaupun saya sudah 13 tahun bekerja di sana. Dan pertimbangan paling besarnya pun masih sama, saya tidak tega untuk meninggalkan Ayah Bunda saya yang sudah tua cuma berduaan saja di rumah.

Dan, memang qadarullah ternyata itu adalah keputusan yang tepat *menurut saya* karena di tahun 2019, Bunda mengalami stroke dan saya pun makin tidak tega meninggalkan Bunda (dan juga Ayah) 😦

Pastinya ada rasa sesal, kesal, sedih, dan bertanya “Kenapa harus saya ya, Allah..” Tetapi, di sisi positifnya, saya berpikir ini adalah ladang saya untuk mencari pahala Allah dalam merawat orang tua saya…Dan saya pun mencoba untuk ikhlas dan sabar menjalani ini semua, dan cuma bisa terus berdoa dan berharap agar suatu hari Allah berkenan untuk mengabulkan doa-doa dan keinginan-keinginan saya yang belum terkabul dan tertunda saat ini.

Sisi positif lainnya, sejak Bunda sakit, sama seperti Kiky, saya pun mulai belajar mengurus rumah tangga dan bergaul dengan ibu ibu teman Bunda. Saya jadi rutin belanja ke pasar tiap akhir pekan dan ikut arisan bersama ibu-ibu tetangga sebulan sekali untuk menggantikan Bunda. Yang masih belum memungkinkan cuma ikut pengajian ibu-ibu teman Bunda karena pengajiannya diadakan siang hari pas hari kerja.

Akhir kata, saya cuma mau bilang buat diri saya sendiri “Be strong and be patient, Inong…Someday you will reach your dream and like the proverb saying: every cloud has a silver lining / ζ‚ͺγθ¦‹γˆγ‚‹γ“γ¨γ‚‚γ€γ‚ˆγ„ι’γŒγ‚γ‚‹…Just always think positive :-)”

Tulisan pertama di 2020: Banjir pertama di 2020…

Selamat tahun baru 2020 semuanya πŸ™‚

Hm, mungkin di hari pertama tahun 2020 kemarin banyak juga teman-teman warga Jakarta yang mengalami banjir seperti saya ya…

Dan pemandangan pertama saya di hari pertama tahun 2020 adalah *Kalau bahasa kerennya mungkin “I woke up like this” :D*:

thumbnail

Sekitar jam 6 pagi πŸ™‚

thumbnail (8)

Jam 10 pagi 😦

Dan yang jelas, saya menikmati 3 hari pertama di tahun 2020 ini dengan tanpa listrik….Sehingga pas HP dinyalain tadi pagi setelah dua hari kehabisan baterai, langsung banyak notif, khususnya WA πŸ˜€

thumbnail (2)

thumbnail (6)

WA yang hanya sebagian saya screen shot πŸ˜€

Ternyata, walaupun ga ngaruh ngaruh banget ke saya mengenai ga ada HP ini, tapi ternyata kangen juga saya sama suara notif dari HP saya πŸ˜€

Dan berikut adalah kondisi di rumah dan sekitar rumah saya setelah banjir tadi pagi saat saya mau berangkat kerja…

thumbnail (7)

Dapur setelah ditinggalkan air setinggi pinggang saya..Untuk di rumah, alhamdulillah air cuma masuk ke garasi dan dapur saja…

thumbnail (4)

Kondisi jalan depan rumah….

Demikianlah tahun baru saya tahun ini..Bagaimana tahun baru Anda?

2010-2019, satu dekade ala saya..

Waktu baca postingan Deny yang satu ini, sebenarnya saya sudah kepikiran “ih, jadi kepengen nulis tentang ini juga deh”. Tapi ya masih kepikiran aja sih, belum ada niat untuk dilaksanakan #Inongbanget 😁 Terus, ternyata si mantan tetangga teman masa kecil saya juga nulis cerita satu dekade ala dia, yang terinspirasi dari Deny, jadi tambah pengen nulis deh si saya ini akhirnya 😊 ya itung itung, buat kenangan pribadi saya aja sih. OK, marilah kita mulai cerita satu dekade ala saya 😁

2010:

Tahun 2010 ini, merupakan salah satu tahun yang tak terlupakan buat saya. Di tahun ini, cita cita saya sejak kuliah dulu akhirnya tercapai setelah berbelas tahun kemudian, yaitu bisa pergi ke Jepang.  Yang bikin tambah senang adalah perjalanan ini dalam waktu lama dan semuanya gratis 😁😁😁

Dan oh ya satu lagi peristiwa paling berkesan buat saya di tahun ini adalah pengumuman pertunangan pangeran idola saya dan Kate Middleton di tahun ini. Sampai sampai saya bikin postingan khusus tentang pernikahan mereka di sini 😁😁😁 dan sekarang pun saya jadi follower akun IG tentang mereka berdua 😊

2011:

Hm, tahun ini sebenarnya ga ada kejadian yang luar biasa versi saya sih, tapi setelah dipikir pikir lagi, ternyata yang paling berkesan di tahun ini buat saya adalah ikut nimbrung jalan jalan ke KL dan Singapura sama keluarga tante saya aka adiknya Bunda, and she was one of the closest aunty for me..Dan anak anaknya adalah juga salah satu sepupu yang terdekat dgn saya. Sebelum perjalanan ini, saya juga pernah beberapa kali jalan sama si tante, tapi biasanya sama Bunda juga. Dan sejak perjalanan ini, saya ga pernah travel bareng beliau lagi sampai beliau sakit di tahun 2014 dan meninggal di awal tahun ini. Dan itulah kayaknya yang menjadikan perjalanan ini jadi berkesan buat saya. Miss u so much, Mucut ❀❀❀❀ Al Fatihah..

FB_IMG_1576887088912

Saya, almarhumah tante, sepupu, dan si Om di belakang 😊

FB_IMG_1576887100802

Sepupu-sepupu saya pakai jubah di mesjid Putrajaya

2012:

Di akhir tahun ini, si sepupu saya yang saya cerita di atas, tiba tiba ngajakin saya pergi umroh, setelah beberapa bulan sebelumnya saya dan diaΒ jalan jalan bareng ke Jepang. Saya yang tadinya agak menolak dengan alasan belum ada uangnya, akhirnya membulatkan tekad untuk berangkat di tahun depannya sama si sepupu karena si sepupu berkata: “Kak, kita udah jalan kemana mana, tapi kok ke sana belum sampai sampai. Yuklah kita niatkan pergi ke sana tahun depan”.

2013:

Alhamdulillah niat suci yang diikrarkan akhir tahun sebelumnya, bisa terlaksana di tahun ini 😊 makasih ya sepupu, udah ngajakin kakaknya ini untuk jalan jalan liat rumah Allah ❀❀🀩🀩

Di tahun ini juga saya pertama kali merasakan kehilangan anggota keluarga inti 😦 it hurts so much 😭😭😭 We love you and miss U, Bang 😊😊 Al Fatihah πŸ™πŸ™πŸ™

Kemudian beberapa bulan kemudian, Bunda juga terkena stroke di Aceh saat menghadiri pernikahan salah seorang sepupu di sana 😦 dan alhamdulillah setelah beberapa minggu kemudian bisa pulang ke Jakarta setelah dirawat di rumah sakit di Aceh.

2014:

Saya bisa melihat sakura pertama kalinya dan juga ikut Pemilu di luar negeri untuk pertama kalinya juga😊 di tahun ini. Kalau lihat sakura sih emang cita cita saya. Kalau yang ikut Pemilu, sebenarnya keinginan teman seperjalanan saya yang ingin kami tetap melaksanakan kewajiban sebagai warga negara yang baik 😊 Dan di tahun ini, saya juga mendapatkan surat elektronik yang menawarkan pekerjaan di Jepang. Surat tawaran pertama untuk saya untuk bekerja di Jepang. Tapi seperti judul posting tersebut, sampai sekarang pun saya masih harus menunda mimpi itu. Entah sampai kapan. Yang penting cita cita itu selalu tetap ada dalam hati saya.

2015:

Di awal tahun ini, saya ditunjuk pertama kali oleh Presdir kantor lama saya untuk mulai mengajar bahasa Jepang di kantor karena adanya program pelatihan untuk operator di kantor pusat di Jepang. Cerita saya ngajar pertama kali dengan murid murid angkatan pertama saya, bisa dibaca di sini 😊 dan tugas mengajar ini tetap dipercayakan kepada saya sampai saya berhenti kerja dari sana di September 2018 lalu.

IMG_20170818_195019_661

Dengan murid angkatan kedua, Arief san dan Ashari san 😊

5a163a9a83d3dc5c080a541f_0

Bersama murid murid angkatan ke 3 saat mengantar mereka bikin paspor di September 2017 😊

2016:

Untuk tahun 2016, kayaknya sih ga ada momen yang berkesan atau tak terlupakan buat saya. Semuanya biasa saja 😊

2017:

Di tahun ini, manajemen kantor lama saya mengumumkan secara resmi bahwa lokasi kantor kami akan dipindahkan ke Kuningan, Jawa Barat, pada akhir 2018. Saya yang saat itu sudah 12 tahun bekerja di sana, memutuskan untuk mengundurkan diri, bersama hampir 85οΌ… karyawan lainnya, karena masih cinta Jakarta #IloveJakarta kalau pindahnya ke Jepang sih saya mau 😁 Tapi saya dan beberapa teman lainnya masih bekerja di sana sampai September tahun lalu 😊

Dan walaupun udah jadi calon mantan karyawan, ternyata saya masih dikasih bonus bisa jalan jalan ke Jepang lagi dgn murid murid saya. Arigatou, shachou 😊(^-^)

2018:

Saatnya berpisah dengan si kantor lama setelah 13 tahun berkarya di sana. Dan sekarang, saya merasa itu adalah keputusan yang tepat, walaupun saat mengambil keputusan, saya sangat ragu ragu dgn keputusan yang saya ambil tapi sok PD aja kalau ditanya orang alasan saya ambil keputusan tersebut. Karena sekarang saya makin menyadari apa kekurangan saya dan berusaha terus untuk memperbaiki dan mengembangkan diri di urusan pekerjaan 😊

Tahun ini alhamdulillah saya juga udah bisa daftar haji. Buat saya ini juga merupakan prestasi, karena sama kayak waktu berangkat umroh, saya harus “disindir” dulu, baru mau daftar. Kalau waktu umroh, “disindirnya” sama sepupu, kalau untuk haji ini, saya disindir oleh Ayah, dengan kata kata “daripada jalan ke Jepang melulu, mendingan daftar haji gih”. Dan thanks to sindiran tersebut dan bantuan dari Abang saya, alhamdulillah udah dapat kuota haji. Kalau si Kiky tahun 2023, sedangkan saya 10 tahun setelahnya alias tahun 2033, insyaa Allah 😊 semoga semua berjalan lancar πŸ™πŸ™πŸ™

2019:

Mengenai 2019 saya, ceritanya bisa dibaca di sini😊 Yang jelas, tahun 2019 ini adalah tahun dimana saya harus mengorbankan segala keinginan dan cita cita pribadi saya untuk sementara, dan memfokuskan diri buat keluarga, khususnya Bunda 😊

Demikianlah satu dekade ala saya. Makasih buat media sosial saya, khususnya WP, sebagai tempat saya menyimpan tulisan, dan FB, sebagai tempat saya menyimpan foto, sehingga saya yang pelupa bisa bikin cerita yang ternyata lumayan panjang ini 😁😁

This entry was posted on December 21, 2019. 4 Comments

2019…..

Tahun 2019 sudah hampir berakhir dalam hitungan hari…Buat saya, tahun 2019 ini merupakan tahun yang berat. Baik bagi kehidupan pribadi maupun untuk keluarga inti saya. Di tahun 2019 ini saya memasuki usia kepala 4, dan seperti saya tulis di postingan yang ini, saya benar benar merasakan usia baru saya ini sebagai awal kehidupan saya, baik dari segi duniawi maupun dari segi rohani..Dari segi duniawi, banyak keinginan duniawi saya yang tidak terkabul atau tidak sesuai keinginan saya di tahun ini dan bikin saya bertanya-tanya kenapa saya tidak bisa mencapai seperti apa yang orang lain capai pada saat mereka berusia sama seperti saya sekarang, padahal orang lain dengan mudah bisa mencapainya. Sedangkan dari segi rohaninya, karena adanya “cobaan” yang menimpa keluarga saya dari sejak awal tahun ini, kadang saya merasa kadar keimanan saya menurun dan mempertanyakan apakah saya sanggup menghadapi “cobaan” yang diberikan Allah ini, walaupun saya tahu pasti Allah tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan hamba-Nya tersebut, bahkan di saat hamba-Nya itu sudah merasa tidak mampu.

Tapi, tetap saya bersyukur karena hari-hari terberat buat saya (dan keluarga) di tahun 2019 yang hampir berakhir ini berhasil kami lewati, dan insyaa Allah hal itu membuat saya dan anggota keluarga saya semakin kuat.

Untuk tahun 2020, saya tidak punya resolusi atau keinginan yang muluk-muluk, cuma bisa berdoa semoga saya dan keluarga ditambahkan kekuatan oleh Allah untuk menghadapi apa pun yang akan terjadi nanti. Dan juga saya ingin berterima kasih kepada semua keluarga dekat maupun jauh, teman, dan kerabat yang sudah memberikan dukungannya kepada saya dan keluarga di tahun 2019 ini.

Bagaimana 2019 Anda sampai hari ini?

And 2020, please be nice to me ❀

Selamat Hari Guru Nasional 2019

Kemarin, ketika keponakan saya main ke rumah, dia cerita kalau dia sedang membuat surat untuk gurunya yang akan diberikan di hari ini bertepatan dengan hari Guru Nasional 2019.

Lalu, tadi pagi ternyata murid saya yang dulu pernah saya ajarkan bahasa Jepang dan sekarang sedang pelatihan di Jepang, juga mengirimkan WA yang berisi ucapan selamat hari guru buat saya, yang membuat saya terkejut dan terharu.

20191125_114138 (1)

Terus habis pasang screen capture percakapan tersebut di status WA saya, seorang tante yang membaca status tersebut mengirimkan foto di bawah ini:

IMG-20191125-WA0002

Hm, teringat perjalanan cita-cita saya dulu sejak kecil, dimana menjadi guru tidak termasuk dalam daftar cita-cita saya tersebut. FYI, dulu waktu kecil, salah satu cita-cita saya jadi pramugari atau foto model lho πŸ˜€ Tapi, akhirnya sadar diri karena kondisi tubuh yang sangat tidak ideal untuk menjadi seorang pramugari ataupun model πŸ˜€

Lalu ternyata, nasib berkata lain. Saya sempat merasakan nikmatnya menjadi seorang guru dan perjalanan menjadi guru (Bahasa Jepang) dimulai ketika saya lulus kuliah dan sedang mencari cari kerja kantoran. Saya sempat beberapa bulan mengajar di salah satu lembaga kursus bahasa asing, sebelum akhirnya diterima bekerja di salah satu perusahaan dan berhenti mengajar di lembaga kursus tersebut. Kemudian, saya juga sempat mengajar privat di rumah pada akhir pekan. Dan kemudian saya akhirnya diberikan kepercayaan untuk mengajarkan bahasa Jepang kepada calon calon trainee dari kantor lama saya yang akan dikirim ke Jepang.

Sebenarnya, saya menikmati banget pekerjaan sebagai guru. Terutama, karena ada rasa kepuasan tersendiri apabila ilmu yang diajarkan bisa dimengerti oleh murid-murid kita dan mereka pun bisa menggunakan ilmu yang kita ajarkan untuk kehidupan mereka. Tetapi, jujur menurut saya pribadi, karena faktor penghargaan “materi” sebagai seorang guru di Indonesia masih amat kurang, saya lebih memilih untuk menjadikan guru sebagai profesi sampingan saya kalau ada yang berminat belajar dengan saya.

Buat guru-guru tercinta di seluruh Indonesia, Selamat Hari Guru Nasional. Buat saya, Anda memang adalah “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” πŸ™‚

Saya Dan Ojek Online :D

Cerita ini terinspirasi dari kejadian kemarin dan mengingatkan saya tentang kejadian beberapa waktu yang lalu.

Setiap hari, saya pulang pergi kerja dengan menggunakan si ojek online. Dan alhamdulillah, sampai saat ini, hubungan saya dengan si ojek baik-baik saja dan sudah ga ada dilema lagi dong antara saya dan si ojek πŸ˜€

Buat saya yang bisa dibilang bukan orang yang tahu jalan pintas, jalan tikus, ataupun lokasi suatu tempat, saya suka pasrah saja dan bilang ke si driver ikutin peta aja πŸ˜€ Dan kalau ternyata kebetulan dapat driver yang ternyata kurang tahu jalan juga, yah akhirnya kami berdua pun “pasrah” dengan menggunakan cara terakhir, yaitu bertanya kepada orang di sekitar lokasi tujuan πŸ˜€ Tapi, sering juga kejadian si driver “memaksa” untuk menggunakan jalan pintas atau jalan tikus karena alasan jalan yang saya ingin tempuh macet. Padahal saya tahu walau jalan yang biasa saya tempuh itu macet (Setiap harinya :D), tapi tetap waktu tempuhnya lebih singkat dibandingkan apabila melalui jalan pintas atau jalan tikus. Kalau begini, hampir selalu kejadian sayalah yang benar πŸ™‚ Dan ini baru saja kejadian *lagi* kemarin πŸ™‚ Sebenarnya, kenapa saya pasrah aja sama kemauan si abang driver lebih karena saya malas ngotot sama mereka. Dan hitung hitung, saya jadi menambah pengetahuan tentang jalan pintas atau jalan tikus di Jakarta πŸ˜€

Ada juga cerita yang “agak luar biasa” buat saya pribadi dengan si driver ojek online ini yang sampai sekarang masih teringat banget oleh saya. Yaitu waktu HP saya kejambretan oleh oknum yang mengaku driver ojek yang saya pesan. Waktu itu, saya mau berangkat pagi-pagi sehabis Subuh ke stasiun kereta untuk menuju Bogor. Setelah mendapatkan driver, saya pun bilang ke dia untuk menunggu saja di jalan raya dekat rumah saya untuk mempersingkat waktu. Ternyata, setelah sampai tempat temu yang disepakati, si driver belum sampai. Sesaat setelah saya sampai, ada seseorang berkendara motor berjaket hijau yang mendekati saya yang sedang berdiri sambil memegang HP. Karena saya pikir itu adalah ojek yang saya pesan, maka pun saya bertanya kepada si driver untuk memastikan, dan ia mengiyakan. Tetapi, si driver bilang bahwa dia ingin memastikan lokasi yang dituju dengan melihat HP saya. Saya pun memperlihatkan HP yang sedang saya genggam, dan kemudian langsung si driver gadungan merampas HP saya tersebut :(( Saya yang kaget dan syok, kemudian berteriak-teriak dan terduduk di tengah jalan *Untung jalannya masih sepi*. Sambil menangis, saya pun berjalan pulang ke rumah yang hanya berjarak 100 m dari tempat kejadian. Setelah agak tenang, saya kembali ke tempat titik temu dengan si driver *yang asli* untuk memastikan apakah dia masih menunggu saya atau tidak. Ternyata tidak ada, dan saya pun kembali ke rumah.

Siangnya, saya pun “dengan terpaksa” membeli HP baru dan mengurus kartu telepon saya. Alhamdulillah, semua berjalan lancar πŸ™‚ Tetapi, setelah nomor saya diaktifkan kembali, ternyata ada orang yang mengaku si driver asli dari ojek yang saya pesan tadi menelepon dan mengirimkan pesan kepada saya yang intinya dia marah kepada saya karena tidak membatalkan order saya tadi pagi sehingga dia tidak bisa menerima order sepanjang hari itu dan mengakibatkan poinnya berkurang. Saya pun meminta maaf sambil menjelaskan keadaannya dan menawarkan untuk memberi ganti rugi untuk menutupi kerugiannya hari itu. Tetapi, si driver tidak mau terima dengan alasan ini bukan soal uang dan malah mengancam akan memberikan nomor saya kepada driver driver yang lain agar mereka tidak mau menerima order saya. Saya bilang terserah, dan saya balas balik bilang bahwa saya akan blok nomor dia πŸ˜€ Alhamdulillah, walaupun diancam demikian, setelah menerima telepon dan pesan dari si driver tersebut, ternyata saya bisa langsung order ojek lainnya kok untuk pulang setelah menyelesaikan urusan HP saya πŸ™‚

Demikianlah sedikit cerita lika-liku hubungan saya dengan si ojek online πŸ™‚ Ada yang punya cerita juga?

 

Foto berjuta kenangan…

FB_IMG_1569988450086Kemarin di akun buku muka milik saya, si buku muka menampilkan kenangan foto ini, yang diambil 9 tahun laluΒ saat saya pertama kali berangkat ke Jepang dan diantarkan ke bandara oleh keluarga saya.Β Pas diingatkan si buku muka, ada rasa campur aduk melihat foto ini, antara sedih dan senang, tapi lebih banyak ke sedih sebenarnya 😦 Alasannya adalah bahwa dalam fotoΒ  tersebut ada almarhumah tante saya yang merupakan adik kandung ibu saya yang baru saja meninggal bulan Februari lalu. Selain itu, di foto ini bunda saya juga masih dalam keadaan sehat. Saya pun memasang foto tersebut di status WA saya, dan ternyata ada beberapa orang sepupu (yang salah duanya merupakan anak anak dari almarhumah Tante) yang berkomentar bahwa mereka sangat merindukan almarhumah tante dan mendoakan kesembuhan buat bunda πŸ™πŸ™ *thank you, dear cousins 😘😘* lalu, tadi pagi pun, suami almarhumah aka om saya minta dikirimi foto tersebut. Perasaan saya pun tambah campur aduk 😦

Memang, benar kata pepatah, foto itu bisa membawa berjuta kenangan..

I miss u, Mucut #AlFatihah and get well soon, Bunda 😘😘